PEMIKIRAN DAN PERADABAN
ISLAM
PADA MASA DINASTI BANI
UMAYYAH
The Dynasty Of Bani
Umayyah
Oleh :
Muhammad Suryatama
14523294@students.uii.ac.id
Program Studi Teknik
Informatika
Fakultas Teknologi
Industri
Universitas Islam
Indonesia
Abstract :
The Umayyah dynasty
was founded by Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Muawiyah is seen as a dynastic
builder that by most historians was initially viewed as negative. Since the
establishment of the Umayyah government in 661 M, a new system of Islamic rule
has also begun. The democratic electoral system developed during the reign of
Ar-rashidin was no longer known in the process of choosing the Caliph. The
process of substitution of the caliph for the next performed following the
hereditary system. The main characteristic of the Umayyah caliphate in Damascus
in social terms is the luxury as a result of glory in politics. Meanwhile,
Islamic values are drowned by worldly values. This is one of the factors of
the collapse of the Abbasiyah dynasty.
Pendahuluan
Berakhirnya
kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib mengakibatkan lahirnya kekuasan baru yang
berpola dinasti atau kerajaan. Setelah Ali bin Abi Thalib meninggal,
kedudukannya sebagai khalifah dijabat oleh anaknya Hasan. Namun karena penduduk
Kufah tidak mendukungnya seperti sifat ayahnya maka Hasan semakin lemah,
sementara Muawiyah semakin kuat. Maka Hasan mengadakan perjanjian damai dengan
Muawiyah dengan menanggalkan jabatan khilafah untuk Muawiyah pada tahun 41H
(661M). Dinasti Bani
Umayyah adalah dinasti Islam pertama setelah masa khulafaur rasyidin dan dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam
sejarah politik Islam yang bersifat keturunan (Yatim,1996:40).
Wilayah kekuasaannya meliputi Jazirah Arab dan
sekitarnya, Afrika Utara, dan Spanyol. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah
bin ‘Abd Asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu
Muawiyah bin Abu Sufyan atau di sebut Muawiyah. Nama
dinasti umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syam bin Abdu Manaf. Ia
adalah salah seorang tokoh penting di tengah Quraisy pada masa jahiliah. Ia dan
pamannya Hasyim bin Abdu Manaf selalu bertarung dalam merebutkan kekuasaan dan
kedudukan.
SEJARAH
TERBENTUKNYA DINASTI BANI UMAYYAH
Setelah khalifah Ali bin Abi Thalib
wafat, Muawiyyah bin Abi Sufyan dengan mudah memperoleh pengakuan dari umat
Islam sebagai khalifah ke lima pada tahun 41H/661M. Dinasti bani Umayyah
berlangsung kurang lebih 90 tahun, ibu kota Negara dipindahkan oleh Muawiyyah
dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya
(Nasution,1985;52).
Sejak berdirinya pemerintahan Bani
Umayyah pada tahun 661M dimulai pula sistem baru pada pemerintahan Islam.
Sistem pemilihan secara demokratis yang dikembangkan pada masa kekhalifahan
Ar-rasyidin tidak dikenal lagi dalam proses pemilihan khalifah. Proses
pergantian khalifah untuk seterusnya dilakukan mengikuti sistem turun-temurun.
Dalam literature Islam sistem itu dikenal dengan Daulah Islamiyah, yang berarti
kekuasaan Islam yang berciri kedinastian atau ashobiyah. Dinasti Bani Umayyah
berlangsung hampir 1 abad.
Selama masa itu, Dinasti Bani
Umayyah di Damaskus (Suriah) dipimpin oleh 14 khalifah. Dari 14 khalifah itu
terdapat 5 khalifah besar yaitu: Muawiyyah bin Abi Sufian (661-680M), ‘Abd al-Malik
bin ‘Umar bin Marwan (685-705M), ‘Umar bin ‘Abd al-Malik (705-715M), ‘Umar bin
Abd al-Aziz (717-720M), dan Hisyam bin ‘Abd al-Malik (724-743M)
(Nasution,1985;56).
Sejak awal pemerintahan Muawiyyah
telah melakukan sejumlah pendekatan agar sistem penggantian khalifah yang
hendak dikembangkan yaitu turun-temurun dapat lancar dilaksanakan. Dia
melakukan pendekatan kepada sejumlah tokoh elite politik untuk mendukung
kebijakannya itu. Kemudian khalifah mengumumkan dekret pertamanya yaitu
pengangkatan puteranya Yazid sebagai putera mahkota, pewaris tahta kekhalifahan
Bani Umayyah. Pada periode ini Islam semakin meluas, ajaran Islam semarak dan
menyelinap masuk ke rakyat. Islam sudah eksis di negeri Syam, Mesir, Sudan,
Afrika Utara, kepulauan di Laut Tengah, Andalusia, dan negeri-negeri lainnya.
KEMAJUAN YANG
DIPEROLEH DINASTI BANI UMAYYAH
Majunya Dinasti Umayyah di capai
karena banyaknya dilakukan ekspansi, sehingga menjadi negara islam yang
besar dan luas. (Bisri,2007;436). Perhatian pemerintahan tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan
penaklukan yang terhenti sejak zaman khulafaur rasyidin yang
terakhir. Hanya dalam waktu kurang lebih 90 tahun banyak bangsa di empat
penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam yang meliputi
tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palestina,
sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, afganistan, India, dan negeri-negeri
yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgiztan yang termasuk
Soviet Rusia (Bizem,2015;253).
Dari persatuan berbagai bangsa dibawah naungan
islam lahirlah benih-benih kebudayaan dan peradaban islam yang baru. Meskipun
demikian, kemajuan yang dicapai tidak hanya dalam bidang militer dan kekuasaan
saja, melainkan juga dalam bidang lainnya seperti sastra, ilmu pengetahun,
sosial, budaya, politik dan pemerintahan.
Prestasi
pertama yang diperoleh bani Umayyah terdapat dalam bidang birokrasi
pemerintahan. Sejarah mencatat tradisi melakukan pencacahan jiwa penduduk dan
sistem surat-menyurat yang teratur. Menunjukkan bahwa disiplinnya kepegawaian
pemerintahan. Semua itu berkembang sesuai dengan sistem administrasi
pemerintahan pusat dan daerah yang dipimpin oleh para amil. Sistem perpajakan
diorganisasikan dengan sangat baik karena merupakan sumber pendanaan paling
besar dari khalifah yang semakin rumit.
Dalam bidang militer, dinasti Bani
Umayyah berhasil melebarkan sayap ekspansinya dengan menguasai wilayah yang
hampir setara dengan kekuasaan Alexander Agung. Dalam catatan sejarah, hampir
semua wilayah yang dikuasai oleh dinasti Bani Umayyah sama luasnya dengan yang
dikuasai oleh Alexander Agung (Aryatna,2013;40).
Dalam bidang politik Bani Umayyah
menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru demi memenuhi tuntutan
perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain
mengangkat majelis penasehat sebagai pendamping, khalifah Bani Umayyah juga
dibantu oleh beberapa sekretaris guna membantu pelaksanaan tugas (Aizin,2015;254).
Selain itu Bani Umayyah juga memakmurkan mesjid dengan
kajian agama. Pada masa daulah bani Umayyah, fenomena
profesionalitas dalam dakwah sudah mulai terlihat. Munculnya kelompok-kelompok
kajian dan halaqah-halaqah dakwah di mesjid-mesjid. Model pengajaran saat itu
adalah model halaqah. Besar kecilnya halaqah sangat tergantung pada kadar
kemampuan ustadz yang menyampaikan ilmunya.
Imam
As-Suyuti dalam kitabnya Itqan menyebutkan bahwa Abdullah bin Abbas dududk di
halaman kakbah, beliau dikelilingi oleh murid-muridnya yang belajar dan
bertanya tentang tafsir Al-Qur’an.
Ibnu
Khalkan menyebutkan bahwa rabi’ah ar-ra’y duduk di mesjid nabawi madinah dan
mengajar disitu. Disampingnya duduk Imam Malik, Imam Hasan, dan orang-orang
yang terkemuka di Madinah. Halaqah rabi’ah ini cukup besar dan dikunjungi oleh
banyak orang di penjuru Madinah. Di mesjid Bashrah, halaqah Hasan al-Bashrih
sangat terkenal. Ciri-ciri halaqah tersebut adalah kajian ilmiah, yaitu kajian
tentang fiqh dan hadits. Selain ulama yang melakukan kajian ilmiah, ada orang
yang disebut al-qashashas atau al-wu’adz (menyampaikan ilmu dengan modal
berita), kegiatan seperti ini sudah muncul sejak masa khulafauh Rasyidin.
Dalam
bidang seni yang berkembang adalah seni bahasa, seni ukir dan seni bangunan. Di
dalam seni bahasa atau kesastraan, banyak muncul penyair terkenal seperti Umar
bin Abi Rabi’ah, Tuwais, Ibnu Suraih, dan Al-gharidh. Pada masa ini muncul Sibawaih yang menyusun buku tata bahasa
pertama berjudul Al-kitab, sehingga ia disebut “Bapak Ilmu Nahwu” Arab karena
buku itu menjadi standart awal pengembangan ilmu nahwu (Nurhakim,2003;57).
Salah satu pencapaian gemilang
dalam seni arsitektur yang tercatat adalah Dome the Rock atau juga di sebut Qubah ash-Shakira di
Jerussalem menjadi monument terbaik yang hingga kini tak henti-hentinya di
kagumi orang. Bangunan ini merupakan masjid yang pertama kali ditutup
dengan kubah. Pada masa ini pula telah banyak bangunan hasil rekayasa umat
Islam dengan mengambil pola Romawi, Persia, dan Arab. Contohnya adalah Masjid
Damaskus yang di bangun masa pemerintahan Walid ibn Abdul Malik dan masjid
Agung Kordoba yang terbuat dari pualam. Dengan demikian, perkembangan
arsitektur mencapai puncaknya pada bentuk dan arsitektur masjid-masjid
(Aizin,2015;256).
Perkembangan seni ukir yang paling
menonjol adalah penggunaan Khat Arab sebagai motif ukiran atau pahatan. Hal ini
dapat dilihat dari banyaknya dinding masjid dan tembok istana yang diukir
dengan Khat Arab. Salah satu yang masih tertinggal adalah ukiran dinding
Qushair Amrah yang terletak di daerah pegunungan yang terletak sekitar 50 mil
sebelah timur Amman.
AKHIR MASA KEKHALIFAHAN BANI UMAYYAH
Kebesaran
yang dibangun oleh Dinasti Bani Umayyah ternyata tidak dapat menaha kemunduran
dinasti itu meski telah berkuasa hampir satu abad. Dari kurang lebih 90 tahun
berkuasa hanya beberapa khalifah saja yang kekuasaannya dianggap berhasil,
antara lain Muawiyyah bin Abu Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin
Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik. Selain mereka
khalifah yang memimpin merupakan khalifah yang lemah. Ciri utama masa
kekhalifahan Umayyah di damaskus dalam segi sosial adalah kemewahan sebagai
akibat kejayaan dalam politik. Sementara itu nilai-nilai keislaman tenggelam
oleh nilai duniawi. Dalam kehidupan politik tidak dapat dikatakan mulus dan
aman. Karena kebijakan setiap khalifah dilaksanakan dengan tangan besi, upaya
pemberontakan seperti tidak pernah terjadi. Beberapa daerah keamiran telah
menyatakan memisahkan diri dan bersikap oposisi. Salah satu gerakan oposisi
dilakukan oleh Abbas, salah seorang paman Nabi Muhammad.Dinasti ini mencapai
puncaknya pada masa al-Walid I bin Abdul Malik dan kemudian akhirnya menurun
dan kekkuasaan mereka direbut Bani Abbasiyah pada tahun 750 M
(Nasution,1978;62).
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Umayyah melemah dan menyebabkannya
runtuh, antara lain pada masa kekuasaan Bani Umayyah pertentangan etnis antar
suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada
semenjak zaman sebelum islam ini semakin meruncing. Perselisihan ini
menyebabkan para penguasa Bani Umayyah kesulitan untuk menggalang kesatuan dan
persatuan. Disamping itu sebagian besar golongan Mawali (non arab) terutama
Irak dan wilayah bagian timur lainnya merasa tidak puas karena status Mawali
itu menggambarkan suatu inferioritas. Ditambah lagi dengan keangkuhan bangsa
arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.Selain itu sistem pergantian
khalifah yang melalui garis keturunan merupakan sesuatu yang baru bagi
masyarakat Arab yang mana lebih menekankan kepada aspek senioritas.
Ketidakjelasan sistem perubahan khalifah ini menyebabkan persaingan yang tidak
sehat diantara anggota keluarga istana.
Penyebab
langsung runtuhnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru
yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abd Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani
Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dinomor duakan oleh
Pemerintahan Bani Umayyah. Lemahnya Pemerintahan Daulah Bani Umayyah juga
disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak
khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan disaat mereka mewariskan
kekuasaan, selain itu golongan golongan agama kecewa karena perhatian penguasa
kepada agama sangat kurang. (Yatim,2005;48-49).
Faktor
eksternal yang berpotensi meruntuhkan kekuasaan Dinasti Umayyah berawal pada
saat Umar II berkuasa dengan kebijakan yang tidak tegas sehingga kelonggaaran
kebijakan tersebut mendatangkan konsekuensi yang fatal terhadap keamanan
pemerintahannya. Semasa pemerintahan Umar II ini gerakan bawah tanah yang
dilakukan oleh Bani Abbas mampu berjalan lancar dengan melakukan berbagai
konsolidasi dengan Khawarij dan Syiah yang tidak pernah mengakui keberadaan
Dinasti Umayyah dari awal. Setelah Umar II wafat, barulah gerakan ini
melancarkan permusuhan dengan Dinasti Umayyah. Gerakan yang dilancarkan adalah
untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi semakin kuat. Pada tahun
446 M mereka memproklamasikan berdirinya pemerintahan Abbasiyah, namun Marwan
menamngkap pemimpinnya yang bernama Ibrahim untuk dibunuh. Setelah dibunuh
pemimpin gerakan diambil alih oleh saudaranya bernama Abul Abbas as-Saffah yang
berangkat bersama-sama dengan keluarganya menuju Kuffah. Kedudukan kerjaan
Abbasiyah tidak akan tegak berdiri sebelum khalifah-khalifah Umayyah tersebut
dijatuhkan terlebih dahulu (Amin,2009;133).
Abul
Abbas As-Saffah mengirim angkatan tentara yang terdiri dari laskar pilihan
untuk menentang Marwan dan mengangkat pamannya Abdullah bin Ali untuk memimpin
tentara tersebut. Antara pasukan Abdullah bin Ali dan Marwan pun bertempur
dengan begitu sengitnya di lembah sungai Dzab yang mana pada akhirnya pasukan
Marwan kalah pada pertempuran itu. Sepeninggalan Mawran maka benteng terakhir
Dinasti Umayyah yang diburu Abbasiyah pun tertuju pada Yazid bin Umar yang
berkedudukan di Wasit. Namun pada saat itu Yazid mengambil sikap damai setelah
mendengar berita kematian Marwan. Ditengah pengambilan sikap damai itu Yazid
ditawari jaminan keselamata oleh Abu Ja’far al-Mansur yang pada akhirnya pun
Yazid menerima tawaran tersebut dan disahkan oleh As-Saffah sebagai jaminannya.
Namun ketika Yazid dan pengikutnya telah meletakkan senjata, Abu Muslim
al-Khurasani menuliskan sesuatu kepada As-Saffah yang menyebabkan Khalifah Bani
Abbasiyah itu membunuh Yazid beserta para pengikutnya (Aizin,2015;265-266).
KESIMPULAN
Dinasti
Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan pada tahun 41 H/ 661 M dan
berlangsung hingga tahun 132 H/ 750 M. Sejak berdirinya pemerintahan Bani
Umayyah pada tahun 661M dimulai pula sistem baru pada pemerintahan Islam.
Sistem pemilihan secara demokratis yang dikembangkan pada masa kekhalifahan
Ar-rasyidin tidak dikenal lagi dalam proses pemilihan khalifah. Proses
pergantian khalifah untuk seterusnya dilakukan mengikuti sistem turun-temurun.
Pada
masa kekuasaannya yang hampir satu abad, dinasti ini mencapai banyak kemajuan.
Diantaranya adalah dalam bidang politik Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan
yang sama sekali baru demi memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan
administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain itu Bani Umayyah juga memakmurkan mesjid dengan
kajian agama. Dinasti Bani Umayyah juga memajukan
bidang seni .Yang berkembang adalah seni bahasa, seni ukir dan seni bangunan.
Kemunduran
dan kehancuran Dinasti Bani Umayyah disebbakan oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan, hidup yang
bermewah-mewahan dan ketidakcakapan khalifahnya dalam memimpin pemerintahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Aizin,Rizem.2015.
Sejarah Peradaban Islam Terlengkap
Periode Klasik,Pertengahan dan Modern.Yogyakarta: Diva Press
Amin,
Samsul Munir,2009.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:Hamzah
Aryatna,Alifa.2013. 125
Cerita dan Fakta Islam yang Unik dan Menakjubkan.Jakarta: Anak Kita
Bisri,M.
Jaelani.2007. Ensiklopedi Islam.Yogyakarta:Panji
Pustaka.
Nasution,Harun.1978.Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid
I.Jakarta:UI Press
Nasution,Harun.1986.
Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah
Analisa dan Perbandingan. Cet.5.Jakarta: UI-Press
Nurhakim,Moh.2003.Sejarah Kebudayaan Islam.Yogyakarta:Diva
Press
Yatim,Badri.1996.Sejarah Peradaban Islam.Cet.4.Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada