Minggu, 30 Agustus 2015

PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI BANI UMAYYAH


PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM
PADA MASA DINASTI BANI UMAYYAH
The Dynasty Of Bani Umayyah

Oleh :
Muhammad Suryatama
14523294@students.uii.ac.id
Program Studi Teknik Informatika
Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia

Abstract :
The Umayyah dynasty was founded by Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Muawiyah is seen as a dynastic builder that by most historians was initially viewed as negative. Since the establishment of the Umayyah government in 661 M, a new system of Islamic rule has also begun. The democratic electoral system developed during the reign of Ar-rashidin was no longer known in the process of choosing the Caliph. The process of substitution of the caliph for the next performed following the hereditary system. The main characteristic of the Umayyah caliphate in Damascus in social terms is the luxury as a result of glory in politics. Meanwhile, Islamic values ​​are drowned by worldly values. This is one of the factors of the collapse of the Abbasiyah dynasty.





Pendahuluan
Berakhirnya kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib mengakibatkan lahirnya kekuasan baru yang berpola dinasti atau kerajaan. Setelah Ali bin Abi Thalib meninggal, kedudukannya sebagai khalifah dijabat oleh anaknya Hasan. Namun karena penduduk Kufah tidak mendukungnya seperti sifat ayahnya maka Hasan semakin lemah, sementara Muawiyah semakin kuat. Maka Hasan mengadakan perjanjian damai dengan Muawiyah dengan menanggalkan jabatan khilafah untuk Muawiyah pada tahun 41H (661M).  Dinasti Bani Umayyah adalah dinasti Islam pertama setelah masa khulafaur rasyidin dan dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam yang bersifat keturunan (Yatim,1996:40).
Wilayah kekuasaannya meliputi Jazirah Arab dan sekitarnya, Afrika Utara, dan Spanyol. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin ‘Abd Asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan atau di sebut Muawiyah. Nama dinasti umayyah dinisbatkan kepada Umayyah bin Abd Syam bin Abdu Manaf. Ia adalah salah seorang tokoh penting di tengah Quraisy pada masa jahiliah. Ia dan pamannya Hasyim bin Abdu Manaf selalu bertarung dalam merebutkan kekuasaan dan kedudukan.

SEJARAH TERBENTUKNYA DINASTI BANI UMAYYAH
Setelah khalifah Ali bin Abi Thalib wafat, Muawiyyah bin Abi Sufyan dengan mudah memperoleh pengakuan dari umat Islam sebagai khalifah ke lima pada tahun 41H/661M. Dinasti bani Umayyah berlangsung kurang lebih 90 tahun, ibu kota Negara dipindahkan oleh Muawiyyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya (Nasution,1985;52).
Sejak berdirinya pemerintahan Bani Umayyah pada tahun 661M dimulai pula sistem baru pada pemerintahan Islam. Sistem pemilihan secara demokratis yang dikembangkan pada masa kekhalifahan Ar-rasyidin tidak dikenal lagi dalam proses pemilihan khalifah. Proses pergantian khalifah untuk seterusnya dilakukan mengikuti sistem turun-temurun. Dalam literature Islam sistem itu dikenal dengan Daulah Islamiyah, yang berarti kekuasaan Islam yang berciri kedinastian atau ashobiyah. Dinasti Bani Umayyah berlangsung hampir 1 abad.
Selama masa itu, Dinasti Bani Umayyah di Damaskus (Suriah) dipimpin oleh 14 khalifah. Dari 14 khalifah itu terdapat 5 khalifah besar yaitu: Muawiyyah bin Abi Sufian (661-680M), ‘Abd al-Malik bin ‘Umar bin Marwan (685-705M), ‘Umar bin ‘Abd al-Malik (705-715M), ‘Umar bin Abd al-Aziz (717-720M), dan Hisyam bin ‘Abd al-Malik (724-743M) (Nasution,1985;56).
Sejak awal pemerintahan Muawiyyah telah melakukan sejumlah pendekatan agar sistem penggantian khalifah yang hendak dikembangkan yaitu turun-temurun dapat lancar dilaksanakan. Dia melakukan pendekatan kepada sejumlah tokoh elite politik untuk mendukung kebijakannya itu. Kemudian khalifah mengumumkan dekret pertamanya yaitu pengangkatan puteranya Yazid sebagai putera mahkota, pewaris tahta kekhalifahan Bani Umayyah. Pada periode ini Islam semakin meluas, ajaran Islam semarak dan menyelinap masuk ke rakyat. Islam sudah eksis di negeri Syam, Mesir, Sudan, Afrika Utara, kepulauan di Laut Tengah, Andalusia, dan negeri-negeri lainnya.

KEMAJUAN YANG DIPEROLEH DINASTI BANI UMAYYAH
Majunya Dinasti Umayyah di capai karena banyaknya dilakukan ekspansi, sehingga menjadi negara islam yang  besar dan luas. (Bisri,2007;436). Perhatian pemerintahan tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan yang terhenti sejak zaman khulafaur rasyidin yang terakhir. Hanya dalam waktu kurang lebih 90 tahun banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk ke dalam kekuasaan Islam yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia (Bizem,2015;253).
Dari  persatuan berbagai bangsa dibawah naungan islam lahirlah benih-benih kebudayaan dan peradaban islam yang baru. Meskipun demikian, kemajuan yang dicapai tidak hanya dalam bidang militer dan kekuasaan saja, melainkan juga dalam bidang lainnya seperti sastra, ilmu pengetahun, sosial, budaya, politik dan pemerintahan.
Prestasi pertama yang diperoleh bani Umayyah terdapat dalam bidang birokrasi pemerintahan. Sejarah mencatat tradisi melakukan pencacahan jiwa penduduk dan sistem surat-menyurat yang teratur. Menunjukkan bahwa disiplinnya kepegawaian pemerintahan. Semua itu berkembang sesuai dengan sistem administrasi pemerintahan pusat dan daerah yang dipimpin oleh para amil. Sistem perpajakan diorganisasikan dengan sangat baik karena merupakan sumber pendanaan paling besar dari khalifah yang semakin rumit.
Dalam bidang militer, dinasti Bani Umayyah berhasil melebarkan sayap ekspansinya dengan menguasai wilayah yang hampir setara dengan kekuasaan Alexander Agung. Dalam catatan sejarah, hampir semua wilayah yang dikuasai oleh dinasti Bani Umayyah sama luasnya dengan yang dikuasai oleh Alexander Agung (Aryatna,2013;40).
Dalam bidang politik Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru demi memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain mengangkat majelis penasehat sebagai pendamping, khalifah Bani Umayyah juga dibantu oleh beberapa sekretaris guna membantu pelaksanaan tugas (Aizin,2015;254).
Selain itu Bani Umayyah juga memakmurkan mesjid dengan kajian agama. Pada masa daulah bani Umayyah, fenomena profesionalitas dalam dakwah sudah mulai terlihat. Munculnya kelompok-kelompok kajian dan halaqah-halaqah dakwah di mesjid-mesjid. Model pengajaran saat itu adalah model halaqah. Besar kecilnya halaqah sangat tergantung pada kadar kemampuan ustadz yang menyampaikan ilmunya.
Imam As-Suyuti dalam kitabnya Itqan menyebutkan bahwa Abdullah bin Abbas dududk di halaman kakbah, beliau dikelilingi oleh murid-muridnya yang belajar dan bertanya tentang tafsir Al-Qur’an.
Ibnu Khalkan menyebutkan bahwa rabi’ah ar-ra’y duduk di mesjid nabawi madinah dan mengajar disitu. Disampingnya duduk Imam Malik, Imam Hasan, dan orang-orang yang terkemuka di Madinah. Halaqah rabi’ah ini cukup besar dan dikunjungi oleh banyak orang di penjuru Madinah. Di mesjid Bashrah, halaqah Hasan al-Bashrih sangat terkenal. Ciri-ciri halaqah tersebut adalah kajian ilmiah, yaitu kajian tentang fiqh dan hadits. Selain ulama yang melakukan kajian ilmiah, ada orang yang disebut al-qashashas atau al-wu’adz (menyampaikan ilmu dengan modal berita), kegiatan seperti ini sudah muncul sejak masa khulafauh Rasyidin.
Dalam bidang seni yang berkembang adalah seni bahasa, seni ukir dan seni bangunan. Di dalam seni bahasa atau kesastraan, banyak muncul penyair terkenal seperti Umar bin Abi Rabi’ah, Tuwais, Ibnu Suraih, dan Al-gharidh. Pada masa ini muncul  Sibawaih yang menyusun buku tata bahasa pertama berjudul Al-kitab, sehingga ia disebut “Bapak Ilmu Nahwu” Arab karena buku itu menjadi standart awal pengembangan ilmu nahwu (Nurhakim,2003;57).
Salah satu pencapaian gemilang dalam seni arsitektur yang tercatat adalah Dome the Rock atau juga di sebut Qubah ash-Shakira di Jerussalem menjadi monument terbaik yang hingga kini tak henti-hentinya di kagumi orang. Bangunan ini merupakan masjid yang pertama kali ditutup dengan kubah. Pada masa ini pula telah banyak bangunan hasil rekayasa umat Islam dengan mengambil pola Romawi, Persia, dan Arab. Contohnya adalah Masjid Damaskus yang di bangun masa pemerintahan Walid ibn Abdul Malik dan masjid Agung Kordoba yang terbuat dari pualam. Dengan demikian, perkembangan arsitektur mencapai puncaknya pada bentuk dan arsitektur masjid-masjid (Aizin,2015;256).
Perkembangan seni ukir yang paling menonjol adalah penggunaan Khat Arab sebagai motif ukiran atau pahatan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya dinding masjid dan tembok istana yang diukir dengan Khat Arab. Salah satu yang masih tertinggal adalah ukiran dinding Qushair Amrah yang terletak di daerah pegunungan yang terletak sekitar 50 mil sebelah timur Amman.

AKHIR MASA KEKHALIFAHAN BANI UMAYYAH
Kebesaran yang dibangun oleh Dinasti Bani Umayyah ternyata tidak dapat menaha kemunduran dinasti itu meski telah berkuasa hampir satu abad. Dari kurang lebih 90 tahun berkuasa hanya beberapa khalifah saja yang kekuasaannya dianggap berhasil, antara lain Muawiyyah bin Abu Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik. Selain mereka khalifah yang memimpin merupakan khalifah yang lemah. Ciri utama masa kekhalifahan Umayyah di damaskus dalam segi sosial adalah kemewahan sebagai akibat kejayaan dalam politik. Sementara itu nilai-nilai keislaman tenggelam oleh nilai duniawi. Dalam kehidupan politik tidak dapat dikatakan mulus dan aman. Karena kebijakan setiap khalifah dilaksanakan dengan tangan besi, upaya pemberontakan seperti tidak pernah terjadi. Beberapa daerah keamiran telah menyatakan memisahkan diri dan bersikap oposisi. Salah satu gerakan oposisi dilakukan oleh Abbas, salah seorang paman Nabi Muhammad.Dinasti ini mencapai puncaknya pada masa al-Walid I bin Abdul Malik dan kemudian akhirnya menurun dan kekkuasaan mereka direbut Bani Abbasiyah pada tahun 750 M (Nasution,1978;62).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Dinasti Umayyah melemah dan menyebabkannya runtuh, antara lain pada masa kekuasaan Bani Umayyah pertentangan etnis antar suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada semenjak zaman sebelum islam ini semakin meruncing. Perselisihan ini menyebabkan para penguasa Bani Umayyah kesulitan untuk menggalang kesatuan dan persatuan. Disamping itu sebagian besar golongan Mawali (non arab) terutama Irak dan wilayah bagian timur lainnya merasa tidak puas karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas. Ditambah lagi dengan keangkuhan bangsa arab yang diperlihatkan pada masa Bani Umayyah.Selain itu sistem pergantian khalifah yang melalui garis keturunan merupakan sesuatu yang baru bagi masyarakat Arab yang mana lebih menekankan kepada aspek senioritas. Ketidakjelasan sistem perubahan khalifah ini menyebabkan persaingan yang tidak sehat diantara anggota keluarga istana.
Penyebab langsung runtuhnya kekuasaan Daulah Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas bin Abd Al-Muthalib.  Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali yang merasa dinomor duakan oleh Pemerintahan Bani Umayyah. Lemahnya Pemerintahan Daulah Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan disaat mereka mewariskan kekuasaan, selain itu golongan golongan agama kecewa karena perhatian penguasa kepada agama sangat kurang. (Yatim,2005;48-49).
Faktor eksternal yang berpotensi meruntuhkan kekuasaan Dinasti Umayyah berawal pada saat Umar II berkuasa dengan kebijakan yang tidak tegas sehingga kelonggaaran kebijakan tersebut mendatangkan konsekuensi yang fatal terhadap keamanan pemerintahannya. Semasa pemerintahan Umar II ini gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh Bani Abbas mampu berjalan lancar dengan melakukan berbagai konsolidasi dengan Khawarij dan Syiah yang tidak pernah mengakui keberadaan Dinasti Umayyah dari awal. Setelah Umar II wafat, barulah gerakan ini melancarkan permusuhan dengan Dinasti Umayyah. Gerakan yang dilancarkan adalah untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi semakin kuat. Pada tahun 446 M mereka memproklamasikan berdirinya pemerintahan Abbasiyah, namun Marwan menamngkap pemimpinnya yang bernama Ibrahim untuk dibunuh. Setelah dibunuh pemimpin gerakan diambil alih oleh saudaranya bernama Abul Abbas as-Saffah yang berangkat bersama-sama dengan keluarganya menuju Kuffah. Kedudukan kerjaan Abbasiyah tidak akan tegak berdiri sebelum khalifah-khalifah Umayyah tersebut dijatuhkan terlebih dahulu (Amin,2009;133).
Abul Abbas As-Saffah mengirim angkatan tentara yang terdiri dari laskar pilihan untuk menentang Marwan dan mengangkat pamannya Abdullah bin Ali untuk memimpin tentara tersebut. Antara pasukan Abdullah bin Ali dan Marwan pun bertempur dengan begitu sengitnya di lembah sungai Dzab yang mana pada akhirnya pasukan Marwan kalah pada pertempuran itu. Sepeninggalan Mawran maka benteng terakhir Dinasti Umayyah yang diburu Abbasiyah pun tertuju pada Yazid bin Umar yang berkedudukan di Wasit. Namun pada saat itu Yazid mengambil sikap damai setelah mendengar berita kematian Marwan. Ditengah pengambilan sikap damai itu Yazid ditawari jaminan keselamata oleh Abu Ja’far al-Mansur yang pada akhirnya pun Yazid menerima tawaran tersebut dan disahkan oleh As-Saffah sebagai jaminannya. Namun ketika Yazid dan pengikutnya telah meletakkan senjata, Abu Muslim al-Khurasani menuliskan sesuatu kepada As-Saffah yang menyebabkan Khalifah Bani Abbasiyah itu membunuh Yazid beserta para pengikutnya (Aizin,2015;265-266).

KESIMPULAN
Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan pada tahun 41 H/ 661 M dan berlangsung hingga tahun 132 H/ 750 M. Sejak berdirinya pemerintahan Bani Umayyah pada tahun 661M dimulai pula sistem baru pada pemerintahan Islam. Sistem pemilihan secara demokratis yang dikembangkan pada masa kekhalifahan Ar-rasyidin tidak dikenal lagi dalam proses pemilihan khalifah. Proses pergantian khalifah untuk seterusnya dilakukan mengikuti sistem turun-temurun.
Pada masa kekuasaannya yang hampir satu abad, dinasti ini mencapai banyak kemajuan. Diantaranya adalah dalam bidang politik Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru demi memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Selain itu Bani Umayyah juga memakmurkan mesjid dengan kajian agama. Dinasti Bani Umayyah juga memajukan bidang seni .Yang berkembang adalah seni bahasa, seni ukir dan seni bangunan.
Kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Umayyah disebbakan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan, hidup yang bermewah-mewahan dan ketidakcakapan khalifahnya dalam memimpin pemerintahannya.




DAFTAR PUSTAKA

Aizin,Rizem.2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Periode Klasik,Pertengahan dan Modern.Yogyakarta: Diva Press
Amin, Samsul Munir,2009.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:Hamzah
Aryatna,Alifa.2013. 125 Cerita dan Fakta Islam yang Unik dan Menakjubkan.Jakarta: Anak Kita
Bisri,M. Jaelani.2007. Ensiklopedi Islam.Yogyakarta:Panji Pustaka.
Nasution,Harun.1978.Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid I.Jakarta:UI Press
Nasution,Harun.1986. Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah Analisa dan Perbandingan. Cet.5.Jakarta: UI-Press
Nurhakim,Moh.2003.Sejarah Kebudayaan Islam.Yogyakarta:Diva Press
Yatim,Badri.1996.Sejarah Peradaban Islam.Cet.4.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada


Tidak ada komentar:

Posting Komentar